Artikel Sains

suara Seringkali kita mendengar banyaknya orang yang bericara. Bandingkan antara suara Anda dulu sejak kecil, suara kawan atau bahkan keluarga, tentu terdapat perbedaan yang cukup signifikan.

Meski suara manusia memiliki pita suara yang bentuk dan jenisnya sama, setiap frekuensi menghasilkan nada yang berbeda-beda. Sebagian suara yang kita dengar tidak hanya 1 frekuensi tertentu, bisa jadi beberapa frekuensi sekaligus.

Suara berasal dari getaran. Manusia dapat mendengar suara yang frekuensinya antara 20 Hertz hingga 20.000 Hertz. Artinya, benda bergetar sebanyak 20 hingga 20.000 kali setiap detik. Terlepas dari rentangan frekuensi tersebut, manusia tidak akan mampu mendengar.

Contoh sederhananya adalah getaran pada sebuah bambu. Nada pada bambu yang bergetar akan terjadi resonansi, sehingga ada frekuensi-frekuensi lainnya yang ikut bergetar. Resonansi itu akan berbeda untuk setiap benda. Perbedaan tersebut biasanya disebut dengan “warna suara”, begitupula dengan manusia. (Yohanes Surya/rmb)

 

Ilmuwan Menemukan Danau di Mars

Danau-Mars

Danau-Mars

WASHINGTON–MI: Ngarai dalam dan panjang serta bekas pantai barangkali merupakan bukti paling jelas mengenai keberadaan danau di permukaan Mars –yang diduga pernah berisi air tapi kini sudah kering, kata beberapa ilmuwan, Rabu (18/6).

“Gambar dari sebuah kamera High Resolution Imaging Science Experiment di pesawat Reconnaissance Orbiter menunjukkan air memotong ngarai sepanjang 50 kilometer,” kata tim ilmuwan di University of Colorado, Boulder.

Danau itu diduga memiliki ukuran 200 kilometer persegi dan kedalaman 450 meter, tulis para peneliti tersebut di jurnal Geophysical Research Letters.

Sekarang tak ada perdebatan bahwa air memang ada di permukaan Mars –robot peneliti telah menemukan es. Juga ada bukti bahwa air mungkin masih merembes ke permukaan dari bawah tanah, kendati air itu segera hilang akibat cuaca dingin, asmosfir tipis Planet Merah tersebut.

Beberapa ilmuwan peneliti planet juga telah melihat apa yang boleh jadi merupakan tepi sungai raksasa dan laut –tapi sebagian bentuk itu juga dapat diperdebatkan dan diduga terbentuk oleh longsoran tanah kering. “Ini adalah bukti pertama yang tak meragukan mengenai garis pantai di permukaan Mars,” kata Gaetano Di Achille, yang memimpin studi tersebut.

“Pengidentifikasian jalur pantai dan bukti ekologi yang menyertai memungkinkan kami menghitung ukuran dan volume danau itu, yang tampaknya terbentuk sekitar 3,4 juta tahun lalu,” kata Di Achille dalam satu pernyataan.

Air adalah kunci bagi kehidupan dan para ilmuwan mencari dengan sia-sia bukti mengenai kehidupan, baik pada waktu lalu maupun sekarang, di Mars. Keberadaan air di planet itu juga dapat bermanfaat bagi peneylitian manusia pada masa depan.

“Di Bumi, delta dan danau adalah pengumpul yang sangat bagus dan pelestari tanda kehidupan masa lalu,” kata Di Achille. “Jika kehidupan pernah ada di Mars, delta mungkin menjadi kuncil guna membuka rahasia biologi masa lalu di Mars,” kata Di Achille.

“Bukan hanya penelitian ini membuktikan bahwa ada sistem danau yang lama hidup di Mars, tapi kita juga dapat melihat bahwa danau yang terbentuk setelah kondisi hangat, basah diduga telah hilang,” kata asisten profesor, Brian Hynek.

Danau tersebut barangkali telah menguap atau membeku selama perbuahan iklim singkat, kata para peneliti itu. “Airnya diduga telah berubah menjadi uap.. Tak seorang pun mengetahui apa yang mengubah Mars dari planet yang hangat dan lembab menjadi seperti sekarang — gurun beku tanpa udara.” (Ant/OL-04)(mediaindonesia)


Studi: Gerhana Berkaitan dengan Iklim Global

gerhana

gerhana

Washington (ANTARA News) – Beberapa peneliti mengatakan mereka telah menemukan hubungan antara kegiatan Matahari dan peristiwa La Nina serta El Nino di wilayah tropis Samudera Pasifik.

Studi baru tersebut, yang disiarkan Kamis (16/7) oleh U.S. National Center for Atmospheric Research (NCAR), mungkin melicinkan jalan bagi ramalan yang lebih baik mengenai temperatur dan pola pengendapan pada waktu tertentu selama rata-rata lingkaran 11 tahun Matahari.

Para peneliti NCAR menggunakan contoh komputer guna menjawab pertanyaan lama mengenai hubungan antara kegiatan Matahari dan iklim global.

“Ketika sinar Matahari mencapai puncaknya, itu memiliki dampak yang berjangkauan jauh dan seringkali halus mengenai pengendapan tropis dan mengenai system cuaca di sebagian besar wilayah di dunia,” kata ilmuwan NCAR Gerald Meehl, pemimpin penulis laporan tersebut.

Studi itu memperlihatkan bahwa saat Matahari mencapai kegiatan maksimal, Matahari memanaskan banyak bagian yang bebas awan di Samudera Pasifik cukup untuk meningkatkan penguapan, meningkatkan curah hujan dan mendinginkan bagian timur Pasifik tropis.

Hasil itu serupa dengan peristiwa La Nina, meskipun pendinginan terpusat di daerah yang lebih ke timur dan hanya separuh kuatnya bagi peristiwa khas La Nina.

Selama satu atau dua tahun berikutnya, pola seperti La Nina yang dipicu oleh kegiatan maksimum Matahari cenderung bergerak menjadi pola El Nino, karena arus yang bergerak lamban menggantikan air dingin di atas wilayah tropis Pasifik timur, dengan air yang lebih hangat daripada biasanya.

Tak dapat disangkal bahwa peristiwa La Nina dan El Nino berkaitan dengan perubahan dalam temperatur air permukaan di Pasifik timur. Semua itu dapat mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia, kata para peneliti tersebut.(*)

 

Ilmuwan Argentina-Brazil Temukan Mekanisme Ingatan Jangka-Panjang

RIO DE JANEIRO–Satu tim peneliti Argentina dan Brazil membuat temuan penting mengenai peran “neurotransmitter dopamine” dalam penguatan daya ingatan, demikian pengumumkan “Pontififcal Catholic University of Rio Grande do Sul (PUC-RS), Jumat.

Penelitian tersebut juga diterbitkan di dalam majalah “Science”, terbitan Jumat. Penilitian itu berlangsung dua tahun dan dipimpin oleh para profesor PUC-RS, Martin Cammarota, Janine Rossato, Lia Bevilaqua dan Ivan Izquierdo, serta Profesor Jorge Media, yang sedang berkunjung, dari Buenos Aires University.

Dalam studi itu, para ilmuwan tersebut berhasil memperlihatkan melalui percobaan biokimia pada tikus bahwa “dopamine” bertanggung jawab atas ingatan dan tak-terlupakannya peristiwa trauma jangka-panjang.

Menurut para ilmuwan tersebut, 12 jam setelah peristiwa penting terjadi –dalam percobaan, semua tikus dijadikan objek sengatan listrik– otak menghasilakn dosis tinggi “dopamine”, yang membuat semua tikus ingat pengalaman menyakitkan itu untuk jangka waktu lama.

Namun jika otak tikus tak menghasilkan “dopamine” pada tahap itu, kejadian tersebut terlupakan, dan semua tikus takkan menghindari sengatan listrik kedua.Gangguan itu dapat menjelaskan mengapa banyak orang tertentu, seperti pecandu narkotika, berkeras untuk melakukan prilaku yang merusak kendati dampaknya negatif.

Menurut Profesor Cammarota, dengan mengetahui bagaimana ingatan mengenai peristiwa itu terjadi, para ilmuwan mungkin, pada masa depan, menghasilkan obat untuk membantu pasien gangguan daya kognitif, seperti penyakit Alzheimer, dan atau prilaku yang tak-menyesuaikan diri terus-menerus, seperti kecanduan narkotika.(republikaonline)


Waww… 25 Galon Air Muncrat dari Permukaan BulanLOS ANGELES

bulan

KOMPAS.com — Sungguh mengejutkan hasil eksperimen penembakan proyektil yang dilakukan badan antariksa AS (NASA) ke permukaan Bulan belum lama ini. Betapa tidak, meski hanya menghasilkan lubang kecil, tembakan tersebut menyebabkan sekitar 25 galon atau hampir 100 liter air muncrat dari permukaan Bulan dalam bentuk es dan uap air.

“Kami menemukan air. Dan kami tidak hanya menemukan dalam jumlah sedikit. Kami menemukan kandungan yang signifikan,” ujar Anthony Colaprete, ilmuwan NASA saat mengumumkan hal tersebut, Jumat (13/11). Temuan ini semakin meyakinkan para ilmuwan bahwa Bulan makin cocok dijadikan tempat tinggal alternatif bagi manusia.

Kandungan air yang cukup besar akan memudahkan pembangunan fasilitas penelitian di Bulan seperti yang dicita-citakan selama ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan air minum, air juga penting dalam pembuatan bahan bakar roket.

Untuk memperoleh bukti adanya air, NASA harus mengorbankan satelit Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) yang diluncurkan bersama dengan misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) pada 18 Juni 2009. LRO menempatkan diri di orbit Bulan, sedangkan LCROSS memisahkan diri dan melenting beberapa kali ke orbit Bulan dan Bumi untuk meningkatkan kecepatannya hingga melesat seperti peluru sebelum menumbuk Bulan.

Setelah melakukan perjalanan selama 113 hari dengan menempuh jarak 9 juta kilometer, LCROSS kemudian menghunjam ke permukaan Bulan. Sebelum menabrakkan diri, sebuah roket bernama Centaur lebih dulu dilepaskan untuk menghasilkan efek tabrakan ganda berselang empat menit. Tabrakan yang diarahkan ke sebuah kawah Cabeus dekat kutub selatan Bulan itu menghasilkan muncratan setinggi hampir dua kilometer.

One response

5 08 2014
Mahfuzh

Artikel yang menarik.. Sains memang akan selalu memberikan jawaban atas rasa penasaran manusia… Itulah kenapa saya juga menulis sains di blog saya.. Nice job.. See you at my blog…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: