Akreditasi Bukan Topeng Lho

30 01 2010

akreditasi

STATUS akreditasi sebuah lembaga pendidikan adalah sebuah jaminan kualitas sesuai standar atau kualifikasinya masing-masing. Akreditasi bukanlah sekadar status formalitas untuk kepentingan promo atau bahkan hanya untuk gagah-gagahan belaka.
Akreditasi bukan topeng yang hanya ingin menampakkan sisi kebaikan dan menyembunyikan wajah sesungguhnya yang penuh bopeng. Akreditasi, adalah informasi sesungguhnya tentang standar kualitas sebuah lembaga pendidikan. Karena itu, status akreditasi harus memiliki pertanggungjawaban yang jelas. Artinya, status ‘akreditasi’ yang tercantum dan menjadi embel-embel sebuah sekolah atau lembaga pendidikan lain, yang biasanya ditulis besar-besar dalam papan nama sekolah, harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan bahwa sekolah yang bersangkutan memang kualitas kesehariannya sesuai dengan apa yang tertulis itu.
Kualitas keseharian? ‘’Ya, harus benar-benar mencerminkan bahwa kualitas sehari-harinya ya seperti itu. Soalnya ada kemungkinan sekolah hanya menggenjot kualitas secara instan pada waktu tertentu, pada saat penilaian akreditasi berlangsung. Begitu status akreditasi sudah diperoleh, lantas kualitasnya kembali pas-pasan seperti sedia kala. Praktik seperti ini tak jarang terjadi dalam kasus-kasus pemberian akreditasi. Bahkan kalau mau jujur, modus-modus tak beres juga kerap terjadi dalam proses pemberian status akreditasi,’’ ujar Angga Teguh, anggota redaksi KORAN PENDIDIKAN yang menempuh studi manajemen pendidikan di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pada saat berlangsung rapat redaksi untuk perencanaan edisi 295 ini.
Di edisi ini, pembaca yang budiman, kami memang mengangkat isu akreditasi lembaga pendidikan dalam rubrik Topik Utama. Menurut hemat kami, banyak kasus menarik yang bisa diangkat tentang akreditasi.
Di negeri ini, tampaknya persoalan ‘labelisasi’ sekolah masih menjadi hal yang amat penting. Itu sebabnya, ‘label’ akreditasi kerap jadi jurus alias senjata ampuh bagi sekolah dalam memasarkan dirinya ke tengah masyarakat. Masyarakat tampaknya juga masih menganggap penting label-label tertulis itu, pada saat akan memilih lembaga pendidikan. Di satu sisi, pemunculan label itu menjadi penting demi memberikan informasi atau garansi kualifikasi kepada masyarakat. Tapi di sisi lain, menjadi patut dipertanyakan kalau sekadar untuk media promo.
‘’Sebenarnya ini tak jauh beda dengan label ‘halal’ pada produk makanan. Sekarang tinggal bagaimana konsumen menyikapi tulisan halal itu. Sebagai info praktis tentang produk yang akan dikonsumsi, itu memang diperlukan. Tapi apakah tulisan ‘halal’ secara formalitas itu, apakah akan menjamin sisi substansialnya?’’ demikian Angga Teguh melanjutkan pendapatnya dalam rapat redaksi yang selalu kami dahului dengan diskusi seputar isu-isu pendidikan.
Begitulah pembaca, laporan singkat kami tentang ‘Akreditas Bukan Basa-Basi’ ini pun tidak mungkin bisa secara tuntas mengulas berbagai hal tentang akreditasi. Tapi sebagai bahan diskusi yang lebih panjang lagi, tentu sudah cukup memadai.http://koranpendidikan.com


Aksi

Information

3 responses

1 02 2010
deni

Akreditasi kadang hanya formalitas, tidak meniulai secara apa adanya dan jujur.

Itulah dunia pendidikan kita….

4 02 2010
aam69

pendidikan kita masih jauh dari kata bagus,..tapi tetep bangga aj deh,,😀

9 02 2010
karim

etika n morl yg prlu d bnhi dlam sstm pndidkn kita .bener g???




%d blogger menyukai ini: