IPB Menemukan Suplemen Penghasil Telur Kaya Omega-3

23 11 2009

IPB

Ini merupakan suatu kebanggaan bagi Negara Indonesia. Dua peneliti Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Fapet-IPB), menemukan suplemen penghasil telur dengan kaya omega-3 (DHA) yang terbuat dari limbah rumah tangga, yakni ikan sarden dan ampas tahu. Kedua peneliti tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu Hidayati, S. MS dan Dr. Komari.

Imam, usai pemaparan hasil penelitianya di kampus IPB ruang PSP 3 Bogor, Kamis (19/11), menuturkan proses pembuatan suplemen omega-3 dibuat melalui proses pengemulsian dan dispersi dari bahan limbah perebusan ikan sarden dengan ampas tahun sebagai filler.

Penelitian yang memakan waktu 14 tahun itu, baru bisa dipublikasikan setelah mendapat sertifikat hak paten dari Depkumham pada tanggal 24 Juni 2009. “Ternyata ikan sarden mengandung banyak omega-3, 6 dan 9, serta memiliki kualitas yang bagus dibanding dengan sumber omega-3 dari tanaman,” ujarnya seperti dilansir ANTARA.

Imam menjelaskan cara kerja suplemen ini dengan mencampurkannya kepada pakan ayam akan menghasilkan telur kaya akan omega-3 (DHA), suplemen berupa cairan berwana kuning pekat seperti minyak ikan. “Jumlah suplemen yang dicampurkan dalam pakan komersial ayam petelur, yakni dengan konsetrasi sebesar lima hingga sepuluh persen,” jelasnya

Imam menyebutkan, pencampuran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disemprot dan diaduk. Temuan ini dihasilkan dengan tujuan untuk mencerdaskan generasi muda, mengingat omega-3 (DHA) sangat baik untuk pertumbuhan tubuh anak.

Omega-3 kaya docosahexaenoic acid (DHA), merupakan asam lemak yang sangat diperlukan tubuh, di antaranya untuk meningkatkan kecerdasan otak anak dan mencegah resiko penyakit koroner serta meningkatkan daya tahan tubuh. Imam menjelaskan perbedaan telur kaya omega-3 yakni secara fisik, berbeda dari telur biasa. Jika dipecah, kuning telur kaya omega-3 berwarna lebih merah, yang banyak disukai konsumen untuk pengolahan jenis makanan tertentu.

Jika dipisahkan dari putihnya dan diangkat, kuning telur kaya omega-3 tersebut dapat bertahan di udara selama 10-15 menit, karena selaput luar dari telur lebih tebal. “Secara fisik luar tidak terlihat perbedaan, tapi dari dalam kuning telur lebih pekat warnanya. Bila diangkat tidak mudah pecah karena selaputnya lebih tebal. Jika dibanding telur biasa, yang tidak bisa betahan lama, segera jatuh dan pecah,” tuturnya

Selain itu penggunaan suplemen yang kaya akan omega-3 kepada peternak ayam mampu meningkatkan nilai jual telur. Tentunya dapat meningkatkan harga jual, harga di pasaran untuk telur yang dikomsumsi saat ini Rp. 12ribu per kilogram atau Rp. 700 sampai Rp. 750 per butir. Telur omega-3 di pasaran Rp 1.500 sampai Rp 2.100 per butirnya, sehingga usaha dengan memproduksi telur omega-3 ini menggiurkan. “Terobosan ini juga ramah lingkungan, karena terbuat dari limbah rumah tangga,” katanya.

Ke depannya IPB akan memproduksi suplemen ini untuk dijual ke masyarakat, yakni peternak ayam petelur. Dengan kisaran harga Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per liternya. “IPB juga akan memproduksi telur omega-3 untuk dipasarkan, sedangkan suplemen ini akan kita lempar ke pasaran untuk diperdagangkan,” jelasnya.

Oleh karena itu Seharusnya pemerintah membantu para peneliti ini untuk mengembangkan hasil karyanya sekaligus memberikan apresiasi tinggi, jangan sampai hak paten produk di ambil alih lagi negara lain.


Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: